Art Jog 2013 - Art Fair Jogja


MARITIME CULTURE
Tahun 2013 ini, ART|JOG (Jogja Art Fair) kembali hadir setelah lima kali menyemarakkan dunia seni rupa Indonesia dan Asia. Setelah secara konsisten dilakukan sejak tahun 2008, publik mulai bisa menerima keunikan dari ART|JOG sebagai Art Fair yang secara spesific bekerja langsung dengan seniman, untuk memamerkan karya seni kualitas terbaik dengan berbagai medium.

Setelah tahun lalu ART|JOG mengusung tema ‘Looking East – A Gaze of Indonesian Contemporary Art’, tahun ini ART | JOG|13 akan melanjutkan tema tersebut, namun lebih fokus pada masalah Budaya Maritim (Maritime Culture).

Tema ini dimaksudkan sebagai pintu masuk pada pola pikir maritim, yang sebenarnya sangat lekat dengan bangsa Indonesia dan juga bangsa-bangsa lain yang
mempunyai wilayah laut, namun sekarang secara terstruktur menjadi dilupakan. Sebagaimana kita ketahui, pola pikir yang membentuk peradaban dunia secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu peradaban daratan [kontinental] dan peradaban kelautan [maritim].

Secara rinci Radhar Panca Dhana pernah menuliskan hal ini di harian Kompas¹, sebagai berikut :

“Dalam adab daratan, dasar keberadaan sebuah komunitas, etnik, atau bangsa dilandasi oleh penguasaan daratan atau wilayah di mana kelompok masyarakat itu mengolah hidup, diri, dan lingkungannya. Itulah modal dasar mereka untuk survive atau mempertahankan keberlangsungan (sub-) spesiesnya.

Dalam asas keberadaan bangsa-bangsa ini, luas wilayah menjadi persoalan utama untuk memberi garansi bagi upaya fitrahi manusia untuk bertahan dan melanggengkan hidupnya. Ketergantungan pada (sumber daya) alam sangat desisif. Karena itulah, persaingan untuk memperebutkan lahan atau wilayah daratan sudah menjadi karakter purba dari peradaban ini.

Dari situlah kemudian berkembang konflik perebutan kuasa (wilayah) menjadi tradisi dan dilembagakan lewat hikayat, mitologi, hingga kisah-kisah epik. Dalam tradisi inilah ambisi dan nafsu manusia untuk menguasai dalam makna mendominasi pihak lain (sampai kemudian tidak hanya secara geografis, tetapi juga politis, ekonomis, hingga kultural) tumbuh subur”.

Sebaliknya, peradaban laut/maritim memiliki karakter dan produk budaya yang berbeda.

“Semua proses pembudayaan itu secara diametral berbeda dengan adab laut, pesisir, atau maritim. Dalam adab terakhir ini, modus eksistensialnya justru berada pada pengakuan akan keber-”ada”-an atau eksistensi lain. Bahkan, lebih dalam lagi, satu diri akan tegak karena tegaknya diri yang lain: Aku ada karena kamu ada, begitu pun sebaliknya.

Maknanya, kita secara natural dan nurtural akan meniadakan atau mengosongkan sebagian dari diri kita untuk dikomplementasi, diisi, bahkan diperfeksi oleh ”orang lain” (the other). Dengan proses semacam inilah kemudian tradisi dan kultur dikembangkan, diwariskan. Inilah kita, bangsa ini, lebih dari 400 etnik di kepulauan ini, pewaris dan pemilik sah adab maritim ini. Bukan sejak dua milenia lalu, saat bangsa Arya—yang kontinental itu—merambah tanah kita, menjajah kita, melainkan sejak belasan milenia sebelum itu.

Maka, jika kita lebih cermat memahami data historis, arkeologis, hingga paleontologis yang ada secara netral—dalam arti belum dalam tafsir tendensius para indonesianis—kita akan mafhum: kita adalah bangsa dengan adab kelautan yang advanced, desisif di tingkat regional, bahkan global.

Dengan adab pesisir yang terbuka, egaliter, dan toleran itulah bangsa ini sebenarnyamengembangkan kebudayaan. Dengan modus itu pula etnik, suku bangsa—juga diri kita—dibentuk. Multikulturalisme dalam makna sesungguhnya adalah keniscayaan kita. Bhinneka Tunggal Ika rumusan cerdas dari fitrah kita.”

Dalam kaitan dengan budaya maritim inilah, Indonesia mempunyai posisi penting dalam arus perkembangan dunia sekarang, baik dari sisi politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Dalam bidang seni rupa, Indonesia juga mempunyai potensi yang sangat besar, karena didukung oleh jumlah seniman yang banyak dan progresif, kegiatan pameran seni rupa yang selalu ada tiap minggu, hingga atmosfer kesenian yang melingkupinya. Kalau kita kaji lebih panjang, sebenarnya hal ini tak lepas dari beragamnya seni tradisi di Indonesia.

Apa dan bagaimana sesungguhnya budaya maritim dengan segala macam korelasinya, diharapkan muncul dalam karya-karya yang dipamerkan pada ART|JOG|13 mendatang.

Yogyakarta, Januari 2013

Bambang ‘Toko’ Witjaksono
(Kurator ART|JOG|13)
sumber : http://artfairjogja.com/web/?page_id=111